Perempuan Gila V

 Mimpi lagi? Ternyata semua itu hanya mimpi. Syukurlah.

Setelah sholat subuh tadi, aku tidur lagi. Bangun-bangun sudah jam delapan pagi. Pagi ini aku mimpi beruntun, dan mimpi terakhir menjadi mimpi yang paling buruk. Jangan sampai banget mbak Yati bercerai sama mas Koko, apalagi dalam mimpi mas Koko harus menjadi pemabuk, tukang selingkuh, mbak Yati menjadi orang jahat, jangan sampai deh ngeri banget. Memang sih jika di pikir-pikir penghasilan mas Koko tidak seberapa, cuma kerja pabrikan. Tidak ada sangkutnya juga sih, tentang mimpiku sama penghasilan mas Koko. Entahlah setidaknya dia baik dan bertanggungjawab, berbanding terbalik dengan apa yang ada di mimpiku. Sial banget aku hari ini.

Bingung mau ngapain hari ini, selain belajar aku tidak tau harus melakukan apa. Lima tahun terakhir aku sudah tidak merasakan bangku sekolah lagi. Misalkan aku masih sekolah, mungkin sekarang aku kelas dua SMA.

Jadi sejak aku kelas satu SMP dulu sempat dibawah ke rumah sakit jiwa, aku tidak tahu alasannya. Hanya saja aku beberapa kali sadar dengan keadaan basah karena air mata. Disana aku di diagnosa skizofrenia, awalnya aku anggap biasa saja. Tapi pandangan orang-orang di desaku yang minim pengetahuan mengatakan bahwa aku orang gila, tidak hanya tetangga, tapi teman-temanku, guru dan hampir semua orang desa yang tau menganggapku aku gila. Hanya karena aku dari rumah sakit jiwa.

Aku tidak kuat dengan omongan itu, jadi aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Namun aku masih membaca buku. Aku rasa aku diciptakan menjadi manusia yang cerdas, sekali baca aku bisa menghafalnya. Jadi sekalipun aku tidak sekolah, aku masih terus belajar, aku selalu minta ke ibu untuk dibelikan beberapa buku.

Dari omongan orang-orang desa juga sempat membuat ibuku drop, tapi bagaimanapun juga aku yakin bahwa badai yang datang, pasti akan berlalu.

Lima tahun ini juga, aku terus minum obat yang diresepkan dokter untuk mencegah penyakitku kambuh. Aku pernah tanya ke dokter, aku juga sedikit mempelajarinya bahwa penyakit yang aku alami tidak bisa sepenuhnya sembuh, kapan saja masih bisa kambuh. Apalagi saat aku terlalu setres atau banyak pikiran. Maka aku memutuskan setidaknya bisa terkontrol, maka aku putuskan untuk meminum obat. Dan kata dokter ini tahun terakhir, karena dua minggu lalu aku ke poli jiwa, dokter menyatakan bahwa aku sudah tidak usah minum obat lagi. Kecuali nanti merasa tidak nyaman boleh minum, tapi minimal disuruh nelfon dulu.

Dokter Vian namanya, dia dokter yang sangat baik. Dia selalu menguatkan aku dikala aku terpuruk dari cemoohan orang-orang yang padahal jika periksa kejiwaan diantara mereka juga ada yang mengalami gangguan jiwa. Entah karena stres tidak bisa menyaur hutang atau karena mikir anak-anaknya yang suka minum-minuman.

“Lisa, udah jam sembilan kau gak bangun kah?” Ibu memecah keheninganku, pintunya aku tutup jadi ibu tidak tahu kalau aku sudah bangun.

“Iyaa ibu, aku sudah bangun, ini masih jam delapan lebih seperempat yaa bukan jam sembilan” Aku mendengus kesal sama ibu yang selalu melebih-lebihkan jam

“Yaudah keluar, ini sarapannya udah matang”

“Iyaa ibu”

Sebelum keluar aku membuka buku baru yang dibelikan ibu kemarin, buku ini tentang Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat dari covernya kayak tidak ada yang menarik, tapi aku penasaran jadi selain buku pelajaran sekolah, aku juga minta buku-buku motivasi atau entah buku jenis apa ini.

Laper juga, aku memutuskan untuk makan dulu setelah ini aku mau lari. Selain belajar, sebenarnya aku memiliki aktivitas lain, ya betul lari. Hanya berpikir agar badan tetap ideal sih tubuh ini. Karena kalau dibiarkan terus, bakal jadi apa aku. Belajar, makan, tidur begitu terus sampai melebar kemana-mana. Memang sih aku tinggi, tapis ama saja aku rasa bakal tidak nyaman.

Lima tahun berlalu juga banyak tetangga yang melupakan bahwa aku gila, jadi anggapan itu sudah lenyap sebagian. Namun aku tetap memutuskan untuk tidak sekolah bukan karena aku malu, lebih ke sakit hati toh aku masih bisa belajar sendiri, selain itu ibuku juga guru. Jadi missal aku merasa ada yang kurang paham, aku bisa tanya ke ibu. Kalau ibu tidak tau biasanya mendatangkan yang ahlinya, seperti pas aku benar-benar ingin mempelajari matematika murni dan ekonomi.

“Mau kemana Lisa?” Mak Lip yang jaga warungnya menegurku.

“Lari mak, masak renang, ini sepatu terus bajuku sport banget gini, sudah kayak pelari kalcer kan?”

“Tak pikir mau nanam jagung” Mak Lip ketawa, aku pun sama mana paham mak Lip pelari kalcer itu apa. Makanya jawabnya malah makin ngawur.

Mak Lip ini salah satu orang yang tidak pernah menganggapku gila, dia ibu dari teman baikku. Sering kali aku memanggilnya Kitti, dia laki-laki badannya kecil, makanya aku memanggilnya Kitti. Nama aslinya Arhan, sedikit tampan. Namun sejak dua tahun ini temanku entah kemana, kata mak Lip di masukkan di salah satu pondok pesantren terbaik di Negeri ini. Tapi aku tidak bertanya detailnya dimana.

Komentar

Postingan Populer