Perempuan Gila
“Ohh.. ini soft
cake nek. Nenek mau?,,. Tapi sebentar ya nek saya cicipin dulu takutnya
basi, karena ini sudah dari kemarin belum saya makan…
“Enggak nduk,
nenek cuma bertanya… Mau kemana?
“Mau pulang nek…”
Disini aku tidak
merasa ada yang aneh, hanya tiba-tiba aku merasa ada yang tidak beres.
Bagaimana bisa ada bapak-bapak berjalan dengan membawa anak-anaknya yang
semakin mendekat semakin banyak jumlah anaknya.
Dari 8, menjadi
20, menjadi 50. “Ini orang apa punya anak sebanyak itu?” dalam hati.
“Nduk... Nduk...
Kenapa?” Nenek itu, memecah lamunanku yang menatap bapak-bapak dengan
anak-anaknya itu.
Anaknya berjumlah
10 dengan usia 11 tahun semua. Mungkin aku terlalu kecapekan hingga halusinasi.
“Kakak, aku boleh
minta rotinya?” Salah satu anak mendekatiku
Aku tidak tau,
karena fokus mencari cari bus yang akan aku naiki untuk pulang.
“Kakak…”
Ehh... Ada apa
adik, mau roti ini kah?
“Iyaa mau kak, mau
sepuluh boleh kak?”
“Loh, kakak cuma
ada satu ini”
“Ihh kakak pelit
banget, kan akum mau sepuluh”
Aku bingung dengan
pernyataan anak itu, ini roti cuma ada satu tapi dia minta sepuluh. Mungkin
biar bisa dibagikan ke saudara-saudaranya.
“Ini bawah aja,
kakak cuma punya satu dik…”
Anak itu tiba-tiba
lari ke bapaknya dan bilang kalau aku tidak mau memberikan rotiku kepadanya.
Bapaknya tampak melihatku dengan tatapan tidak suka.
Aku tidak ingin
menghiraukan, namun perasaanku semakin gaenak.
Tibalah bus arah
Surabaya-Gresik. Aku langsung naik, sebelum itu aku membantu nenek-nenek untuk
naik. Aku tidak ingin terlibat masalah dengan bapak dan anak-anaknya itu.
Ternyata mereka satu bus denganku yang juga akan perjalanan ke Gresik.
Aku tidak paham
situasi yang sedang aku hadapi, aku seperti tidak bisa tenang dan merasa
khawatir karena satu bus dengan mereka.
Bus mulai
berjalan. Tak lama dari itu, bapak-bapak itu mengeluarkan pisau dari perutnya.
Anak-anaknya pun merencanakan untuk membunuhku. Tatapannya semakin membuatku
ketakutan.
Posisiku dibangku
belakang, tidak jauh dari tempat duduk mereka. Dan akan turun diperhentian yang
sama dengan aku.
Aku berfikir
sejenak dan berinisiatif untuk turun di halte sebelum tepat diperhentianku.
Namun bapak-bapak dan anak-anaknya tiba-tiba berterik berbarengan kepadaku.
“Koe harus mati!!”
Aku kaget dan
reflek berlari menuju ke bagian depan bus, meminta pertolongan. Tidak ada yang
peduli. Bahkan nenek-nenek yang sebelumnya sama aku hanya diam.
Salah satu anak
mengejarku, langsung ku tendang dengan tendangan T.
Bapaknya tidak
terima langsung lari ke arahku mengacungkan pisaunya, berteriak “Koe harus mati
di tanganku!!” Anak-anak lainnya mengikuti, teriak “Harus mati!!”
Mukaku pucat dan
bercucuran keringat dingin. Aku tak lagi bisa teriak. Hanya diam dan meratapi
“Apakah aku akan mati?”
Salah satu seorang
penumpang kakek-kakek dengan jangut sepanjang perut yang tadinya diam langsung
bergerak menghadang bapak-bapak itu. “Kau segera turun, cepatt!!”
“Tat, taapi ini
belum bisa berhenti bus nya”
“Pak sopir, tolong
hentikan bus nya” Kakek itu berteriak.
Bus langsung
berhenti ditengah jalan dan membuat kemacetan sebentar
Aku yang masih tak
percaya langsung lari keluar. Bapak itu masih teriak sangat kencang “Koe
matio!!, Koe matio!!, Woiii koe matio ANJING!!”
Orang-orang diluar
bus melihat kejadian itu dan beberapa orang menghamipirku. Aku tak mengenal
mereka semua. Tapi aku merasa lebih aman karena semakin banyak yang membantuku.
“Aneh… aku hidup
dimana? Kenapa orang-orang hanya punya tangan satu”
Orang-orang yang
menolongku hanya memiliki tangan satu, bahkan Sebagian dari mereka tidak
berambut, ada juga wajahnya yang terbuntal karung.
Bus itu jalan
kembali dengan kecepatan kilat, hingga aku tak sadar busnya sudah sangat-sangat
jauh.
Aku terbangun,
jantungku berdebar kencang, berkeringat dingin. “HAH?? Ini cuma mimpi?”
Plaak, plak… aku
menampar pipiku sendiri. Sadar… sadar…
“Ahh… kepelaku
pusing sekali”
Mataku masih susah
untuk dibuka, aku membuka HP untuk melihat jam “Masih jam 02.23 WIB.
“Sial banget malam
ini… mimpi apaan dah!”
Komentar
Posting Komentar