Perempuan Gila IV
Turun dari motor aku langsung masuk ke rumah karena
sudah menahan kencing sejak di ladang. Aku terkejut melihat mbak Yati di cekik
mas Koko suaminya, dia melihatku.
“Jangan ikut-ikut kau Lis, ini urusan keluargaku”
dengan nada setengah teler efek minum-minuman beralkohol
Aku sangat takut dan berlari keluar untuk memanggil
ibu, hingga aku lupa tujuanku masuk rumah.
“Bu… mbak Yati... di cekik mas Koko…” dengan
tersenggal-senggal karena tak kuasa menahan tangis
“Ya Allah… Kenapa mas Koko itu Lisa…” Ibu langsung
masuk dengan panik
Mas Koko masih tak melepaskan tangannya di leher mbak
Yati, disana terlihat Lala menangis terisak-isak memegang baju mbak Yati.
“Ya Allah… Lapo Ko, enek opo, tanganmu gak pok culno
Ko!” Ibuku yang langsung menarik mas Koko
BraakkI!!… Ibuku di
dorong mas Koko membentur lemari. Aku langsung menuju ibu dan memeluknya.
“Aku emang selingkuh, lapo heh? Aku wes gak doyan karo
awakmu” dengan ekspresi menantang dan mata melotot
“Kelakuanmu koyok ngono mas, aku wes ngerti… aku wes
ngerti…” dengan nada tersenggal, mbak Yati meneteskan air mata.
“Terus pek lapo awakmu? Njalok dipateni tah? Gausah
ganggu ganggu urusanku, lapo awakmu ngubungi Reni heh?
“Koen bojoku mas, sadaro” dengan ekspresi datar, marah
tidak marah, sedih tidak sedih, hanya keluar air mata tanpa ekspresi jelas.
“Saiki awakmu tak talak tiga!!” mas Koko melepas
tangannya dan langsung keluar dari rumah.
Terlihat mbak Yati yang masih diam terduduk tidak
menyangka suaminya akan setega itu memperlakukan dia di depan anaknya sendiri
seperti itu. Dia masih syok menerima kenyataan itu. Hingga dia tidak tau mau
berbuat apa. Menangis? Sepertinya terlalu memalukan di depan ibuku, dia selalu
membanggakan bahkan meninggi-ninggakan suaminya di depan ibu tentang
pekerjaannya yang sukses.
Ibu selalu mengingatkan tentang suami pilihannya yang
menurut ibuku tidak layak untuk dijadikan suami, karena kesehariannya yang suka
mabuk.
Disini Ibu juga terlihat masih tidak bisa menerima,
maka aku mengantarnya masuk ke kamar terlebih dahulu. Setelah itu, aku
mengambil Lala yang masih nangis sejadi-jadinya. Lala mungkin tak paham apa
yang terjadi, namun aku rasa dia bisa merakan apa yang sedang dialami oleh
ibunya itu.
Aku disini juga bingung dan tidak menyangka mas Koko
bisa bertindak sekejam itu. Beberapa tetangga yang mendengar bentakan suara
dari rumah keluar, ada yang langsung ke rumah menanyakan apa yang terjadi.
Namun disini aku yang menggendong Lala diluar hanya mengatakan bahwa tidak ada
apa-apa.
“Itu tadi Koko kok kayak emosi gitu Lis, beneran gaada
apa-apa?” Tanya mak Lipa salah satu tetangga
“Gaada mak” Aku mencoba menjawab dengan tenang,
padahal hatiku sebenarnya sangat sakit dan gak kuat ingin menangis.
“Ohh… Terus kenapa Yati itu duduk disana?”
“Besok lagi ya mak Lip, maaf ya… sudah malam mak Lip
mau tak tutup rumahnya”
“Yaudah Lis, beneran tidak apa-apa kan? kalau gitu tak
balik dulu ya Lisa, nanti kalau ada apa-apa bilang saja, tak perlu malu-malu
sama mak Lipa yaa.”
“Iyaa mak, Terimakasih banyak”
Aku masuk dan menutup pintu, mbak Yati masih tak
bergerak duduk ditempat yang sama di ruang tamu depan lemari baju ibuku. Aku
pun tak berani mendekatinya. Ibu sudah mulai agak tenang mencoba membujuk mbak
Yati untuk masuk ke kamar.
“Sudahlah Yati tidak perlu kau risaukan suamimu yang
tidak becus itu” Ibu dengan berat bilangnya karena menangisi adiknya yang
tampak sangat menyedihkan
Mbak Yati hanya diam tak menjawab apapun. Malam ini
kita semua tidur di ruang tamu.
Sejak malam itu juga sikap mbak Yati semakin banyak yang berubah, lebih mudah meluapkan amarahnya. Tidak hanya ke anaknya, tapi ke ibu dan aku. Aku disini masih 10 tahun yang bisa dibilang masih sangat rentan dengan trauma. Beberapa kali aku harus menerima kekerasan dari mbak Yati yang setiap ibu membantuku, malah ibu yang kena pukulannya. Hanya saja aku tidak sadar ini kejadian persisnya seperti apa, apakah ini nyata atau tidak, jujur aku belum bisa mencernanya.
Komentar
Posting Komentar