Perempuan Gila IV

 Malam dengan gelapnya, manusia dengan kebengisannya. Sudah mau tengah malam aku dan ibu baru pulang dari ladang memastikan domba aman dari maling yang sudah dua minggu ini mencuri kambing dan domba warga yang dikandangkan di ladang. Beberapa dibawah hidup-hidup, namun ada juga yang gorok menyisakan organ dalamnya.

Turun dari motor aku langsung masuk ke rumah karena sudah menahan kencing sejak di ladang. Aku terkejut melihat mbak Yati di cekik mas Koko suaminya, dia melihatku.

“Jangan ikut-ikut kau Lis, ini urusan keluargaku” dengan nada setengah teler efek minum-minuman beralkohol

Aku sangat takut dan berlari keluar untuk memanggil ibu, hingga aku lupa tujuanku masuk rumah.

“Bu… mbak Yati... di cekik mas Koko…” dengan tersenggal-senggal karena tak kuasa menahan tangis

“Ya Allah… Kenapa mas Koko itu Lisa…” Ibu langsung masuk dengan panik

Mas Koko masih tak melepaskan tangannya di leher mbak Yati, disana terlihat Lala menangis terisak-isak memegang baju mbak Yati.

“Ya Allah… Lapo Ko, enek opo, tanganmu gak pok culno Ko!” Ibuku yang langsung menarik mas Koko

BraakkI!!… Ibuku di dorong mas Koko membentur lemari. Aku langsung menuju ibu dan memeluknya.

“Aku emang selingkuh, lapo heh? Aku wes gak doyan karo awakmu” dengan ekspresi menantang dan mata melotot

“Kelakuanmu koyok ngono mas, aku wes ngerti… aku wes ngerti…” dengan nada tersenggal, mbak Yati meneteskan air mata.

“Terus pek lapo awakmu? Njalok dipateni tah? Gausah ganggu ganggu urusanku, lapo awakmu ngubungi Reni heh?

“Koen bojoku mas, sadaro” dengan ekspresi datar, marah tidak marah, sedih tidak sedih, hanya keluar air mata tanpa ekspresi jelas.

“Saiki awakmu tak talak tiga!!” mas Koko melepas tangannya dan langsung keluar dari rumah.

Terlihat mbak Yati yang masih diam terduduk tidak menyangka suaminya akan setega itu memperlakukan dia di depan anaknya sendiri seperti itu. Dia masih syok menerima kenyataan itu. Hingga dia tidak tau mau berbuat apa. Menangis? Sepertinya terlalu memalukan di depan ibuku, dia selalu membanggakan bahkan meninggi-ninggakan suaminya di depan ibu tentang pekerjaannya yang sukses.

Ibu selalu mengingatkan tentang suami pilihannya yang menurut ibuku tidak layak untuk dijadikan suami, karena kesehariannya yang suka mabuk.

Disini Ibu juga terlihat masih tidak bisa menerima, maka aku mengantarnya masuk ke kamar terlebih dahulu. Setelah itu, aku mengambil Lala yang masih nangis sejadi-jadinya. Lala mungkin tak paham apa yang terjadi, namun aku rasa dia bisa merakan apa yang sedang dialami oleh ibunya itu.

Aku disini juga bingung dan tidak menyangka mas Koko bisa bertindak sekejam itu. Beberapa tetangga yang mendengar bentakan suara dari rumah keluar, ada yang langsung ke rumah menanyakan apa yang terjadi. Namun disini aku yang menggendong Lala diluar hanya mengatakan bahwa tidak ada apa-apa.

“Itu tadi Koko kok kayak emosi gitu Lis, beneran gaada apa-apa?” Tanya mak Lipa salah satu tetangga

“Gaada mak” Aku mencoba menjawab dengan tenang, padahal hatiku sebenarnya sangat sakit dan gak kuat ingin menangis.

“Ohh… Terus kenapa Yati itu duduk disana?”

“Besok lagi ya mak Lip, maaf ya… sudah malam mak Lip mau tak tutup rumahnya”

“Yaudah Lis, beneran tidak apa-apa kan? kalau gitu tak balik dulu ya Lisa, nanti kalau ada apa-apa bilang saja, tak perlu malu-malu sama mak Lipa yaa.”

“Iyaa mak, Terimakasih banyak”

Aku masuk dan menutup pintu, mbak Yati masih tak bergerak duduk ditempat yang sama di ruang tamu depan lemari baju ibuku. Aku pun tak berani mendekatinya. Ibu sudah mulai agak tenang mencoba membujuk mbak Yati untuk masuk ke kamar.

“Sudahlah Yati tidak perlu kau risaukan suamimu yang tidak becus itu” Ibu dengan berat bilangnya karena menangisi adiknya yang tampak sangat menyedihkan

Mbak Yati hanya diam tak menjawab apapun. Malam ini kita semua tidur di ruang tamu.

Sejak malam itu juga sikap mbak Yati semakin banyak yang berubah, lebih mudah meluapkan amarahnya. Tidak hanya ke anaknya, tapi ke ibu dan aku. Aku disini masih 10 tahun yang bisa dibilang masih sangat rentan dengan trauma. Beberapa kali aku harus menerima kekerasan dari mbak Yati yang setiap ibu membantuku, malah ibu yang kena pukulannya. Hanya saja aku tidak sadar ini kejadian persisnya seperti apa, apakah ini nyata atau tidak, jujur aku belum bisa mencernanya.

 

Komentar

Postingan Populer