Malaikat Pencatat Dosa Pejabat

Negara ini sudah bubar sejak lama, katanya sih karena rakyatnya yang bodoh, yang tidak bisa membaca, malas bekerja, tidak tau diri, tidak tau diuntung, tidak punya urat malu, tolol.

Padahal apa apa, semua muanya yang terjadi itu dari pemerintah. Namun pada kenyataannya tanggung jawab itu dilimpahkan ke rakyat. Sekarang rakyat mana yang masih percaya dengan pemerintah? Selain orang-orang yang ingin cari muka?

Pemerintah tak pernah sadar, karena lagi diposisi terbaik. Bertemu rakyat disambut dengan baik, dipanggil panggil dengan penuh harap, di rangkul rangkul dengan penuh kasih. Kenyataannya pemerintah tak merasakan apa-apa. Beberapa rakyat mungkin bersikap baik karena ingin dibaiki, nah bagaimana tentang rakyat yang benar-benar tulus?. Hingga dititik sekarang kayak tidak ada ketulusan lagi diantara rakyat dan pemerintah, ingin sama-sama saling menguntungkan.

Pikir saja, bagaimana caranya rakyat untung kalau pemerintahnya tidak sadar, tidak merasakan apa yang dirasakan rakyat, bahkan tidak tau atau mungkin tidak mau tau apa keinginan rakyat 

Pemerintah yang akan datang jika tidak punya konsep sistem untuk memperbaiki, kayaknya akan makin memperburuk. Belum lagi segelintir dari mereka yang dipikirkan hanya uang uang uang, kuasa kuasa kuasa, lalu bertanya ke rakyat "Anda siapa?".

Rakyatnya sendiri tidak tau, pemerintah tolol. Ini segelintir tapi Negara sudah kayak terpelintir. Gimana kalau satu Negara saja sekalian kan? Rakyat, pemerintah, antek antek, orang penting, gak penting, membalikkan Negara ini. Siapa tau dibalik Negara ini ada jawaban, ada hal yang bisa merubah menjadi lebih tersistem. Bukan lagi membaik, tapi tersistem dengan rapi.

Tapi apa itu mungkin? Tidak lah, mana ada konteks Negara dibalikkan yang atas ditaruh dibawah, yang bawah ke atas. Jadi Padang mahsyar, tidak lagi ada rumah-rumah, tidak ada bangunan-banguna tinggi, tidak ada apa-apa yang berdiri selain manusia, hewan, pohon dan gunung, kembalilah ke kehidupan kuno. Mana mungkin itu terjadi.

Yang pasti dan yang perlu dipikirkan adalah bagaimana rakyat muda yang akan menjadi masa depan pemimpin Negara ini benar-benar terdidik. Tidak hanya paham bagaimana Negara ini menjadi bangsa yang besar, tapi memikirkan kehidupan rakyat. Bagaimana rakyat gak lagi miskin, gak lagi mikir gimana cara makan sore atau besok pagi, gak lagi mikir baju lebaran beli atau enggak, banyak yang dipikirkan rakyat. Sampai-sampai yang tersebut hanya yang terpikirkan.

Lagi-lagi rakyat tidak tau harus apa kan? MGB? Bergizi? Kenapa gak otaknya aja yang dibentuk, di kasih pendidikan, sekolah sekolah yang sudah berdiri disubsidi, diperketat seleksi guru. Biar apa? Biar tidak hanya guru selundupan yang ngajar, biar pendidikan terorganisir. Rakyat bingung, rakyat tidak tau besok makan pakai uang apa, bingung beli baju lebaran bukan karena mereka tidak punya uang. Tapi tidak punya otak yang mumpuni.

Sadarlah pak, Negara ini butuh pendidikan, bukan butuh makanan. Makanan sesederhana apapun selagi layak konsumsi, rakyat sanggup memakannya. 

Kasihan malaikat pencatat dosa harus menopang buku besar. Sampai-sampai tidak muat, tak sempat juga berhenti kerja, ada saja dosa dosa yang perlu dicatat dari Negara ini. 

Besar juga yaa, seantero kayaknya. Mana aku gak tau antero itu apa.

Ahh kenapa saya jadi emosi, makin gak jelas saja. Jadi mikir gimana kalau uang korupsi tahun kemarin yang sekitar 3000 Triliun kemarin jadi milikku, mungkin saja aku bangun Negara sendiri. 

"Ada-ada saja anak ini!" Gerutu malaikat


Komentar

Postingan Populer