Perempuan Gila III
Sebenarnya dia bukan kakakku, tapi saudara terakhir
dari ibuku, maka dia aku anggap kakak tiri, bukan bibik atau tante atau mungkin
aunti. Aku memanggilnya embak.
Sebenarnya dia sudah menikah, hanya suaminya biang
selingkuh. Anaknya masih kecil, belum mengerti apa-apa, belum juga sempat
sekolah. Namun selalu dijejali dengan cemooh dan gamparan.
Kadang kasihan, tapi aku sendiri tidak bisa
mengasihani diri sendiri. Jadi aku biasa berinisiatif mengajak Lala anak kakak
tiriku itu untuk main keluar. Bukan untuk menghiburnya, tapi untuk diriku
sendiri yang sebenarnya butuh hiburan. Meski hanya sekedar ke rumah teman.
Pyaarrr. Suara hantaman piring
terdengar dari dapur.
Disana tempat kakak tiriku menghabiskan waktu pagi
sampai siangnya untuk memasak jualannya. mbak Yati memiliki toko kecil untuk
menjual berbagai kue buatannya. Keahliannya dalam memasak apapun tidak
diragukan lagi, sayangnya dia tidak punya kontrol emosi yang baik.
“Lala anakku gak anakmu, koen gaiso meneng tah?
Bendino kok ngatur-ngatur uripku” terdengar suara keras mbak Yat
“Aku mek niat ngandani yat… anakmu iku nangis. Mbok yo
digendong disek, kerjaane nko neh. Gak sakno tah karo anakmu, ket mau nangis”
Ibu mencoba menenangkan.
“Koen kok gak ono kapoke, suwe suwe tak antem ladeng
cocotmu”
Aku yang mendengar itu langsung lari menghampiri ibu.
“Sudah buk, Sudah…” Aku dengan menangis memeluk ibu
“Kono gowoen ibukmu, ganggu wong masak ae”
Aku langsung membawa ibu menghindari mbak Yati,
terlihat Lala yang menangis digampar dengan centong kayu “Wes menengo La”.
Aku teringat pernah hampir ditempelin susuk panas yang
baru dibuat menggoreng. Aku takut, aku memeluk ibuku semakin erat. Ibuku juga
ikut menangis.
Mungkin mbak Yat lupa dengan apa yang diberikan ibuku
padanya. Bahkan aku sering iri dengan perlakuan ibu ke mbak Yat yang bagiku
sebagai anaknya itu berat sebelah. Dari sekolah yang di biayai ibu, kuliah,
hingga nikahannya, Sebagian besar uang hasil kerja ibu diberikan ke mbak Yat.
Sesayang itu ibu dengan adik kecilnya, namun entahlah.
Bahkan mbak Yat tidak segan jika harus main tangan ke ibuku yang notabenya
orang yang membesarkannya juga membagi kasih sayangnya denganku.
Sejak kecilnya, sekitar umur 6 tahunan nenek
meninggal. Jadi beban hidupnya ada di ibu sebagai kakak yang tinggal serumah
dengannya. Ibu memiliki enam saudara, namun dari ke enam saudaranya tidak
pernah sekalipun menginjak lagi ke rumah tinggalan nenek.
Aku tidak tau pasti kesalahan ibuku, tapi bagiku sudah
keterlaluan. Kadang aku sampai tak waras jika harus memikirkan masalah yang ada
di keluargaku.
“Ibu, gak mau kah kalau kita pindah? Aku takut bu…”
“Tidak bisa Lisa, ini rumah yang dititipkan nenek ke
ibu”
“Kan ada mbak Yati”
“Ini bukan rumah mbak Yati Lisa, ini rumah peninggalan
nenek yang diberikan ke ibu”
“Tapi aku takut bu… Aku takut jika melihat ibu
dipukuli lagi”
“Tidak nak, kalaupun keluar mau kemana?”
Mbak Yati semenjak mau menikah seperti sudah tidak
suka dengan ibu, karena ibu sering memberi ceramah peringatan tentang mencari
calon suami. Bahkan ibu sempat menentang saat mau menikah dengan laki-laki
pilihannya. Namun mbak Yati malah dijejali kenyataan tentang kelakuan suaminya
si biang selingkuh dan pemabuk itu, semakin banyak yang berubah darinya.
Kebenciannya terhadap ibuku terasa makin bertambah.
Aku tidak tau mengapa itu bisa terjadi, padahal jelas niat ibuku baik.
Apa benar mbak Yati itu perwujudan manusia yang
sesungguhnya? Yang tidak tau cara berterimakasih bahkan ke orang yang
menyayanginya penuh kasih. Kadang aku tidak bisa mencernanya dalam pikiran.
Komentar
Posting Komentar