Perempuan Gila II
Pagi masih sangat gelap, suara hujan membuatnya semakin runyam. Beberapa kali kilat dan gluduk saling susul menyusul menyatakan saat ini mereka yang paling berkuasa. Jam masih menunjukkan pukul 03.00 WIB. “Ahh ngantuk banget”
Hari itu aku
berjalan diantara kerumunan pendemo, banyak jajaran pemerintah turun ke jalan
memihak rakyat. Aku tak tau pasti apa yang terjadi, terlihat Presiden berpidato
membicarakan bahwa dunia sudah tidak baik-baik saja. “Kita harus bersatu…”
Suaranya samar-samar bahkan mendekati tidak jelas.
Aku berjalan terus
masuk kedalam kerumunan, seolah olah menjadi seorang jurnalis yang mencari informasi
tentang apa yang sedang terjadi. Aku merasa ada orang yang mengikutiku, dua sosok
laki-laki yang satu tampak familiar, satu lagi aku tak mengenalnya.
Disana aku
memotret banyaknya kerumunan dan melakukan wawancara ke beberapa masa agar
semakin meyakinkan penyamaranku.
Dua laki-laki itu
masih mengawasiku dari jauh, untuk menghindarinya aku lari ke arah jalan besar tempat
mobil ku parkirkan.
“Heii… Jangan lari”
Ucap salah satu laki-laki itu
Aku tidak mengubrisnya
dan fokus lari untuk menjauhi mereka. Namun sebelum aku sempat menyalakan
mobilku, laki-laki yang familiar itu membuka pintu mobilku.
“Aku pengen
ngomong sesuatu” dengan memegang tanganku
Aku menepis
tangannya dengan kasar “Kau siapa?”
“Apa aku perlu
menjelaskan aku siapa? Kau tak ingat, kau pernah bersamaku?”
“Enggak”
“Aku Isbi, please
kasih kesempatan sekali saja buat aku ngomong”
“Gak”
Aku sudah
menyalakan mobil dan langsung meninggalkannya. Temannya yang tadi juga sudah
mengambil mobil, dia masuk dalam mobil ikut mengejarku.
Dia terus
mengikuti kemanapun aku pergi. Jalanan terlihat sepi seperti tidak ada kehidupan
selain di tempat demo tadi. Aku bingung karena tampak asing dengan jalanan ini.
Di samping kanan kiri jalan terlihat pemandangan indah, saking indahnya aku tak
bisa menjelaskan keindahannya.
“Apa yang terjadi
dengan dunia ini?” dalam hatiku
Tiba – tiba mobilku
macet tepat di depan hotel yang sangat megah, aku langsung lari keluar dari mobil,
karena terlihat mobil dia dan temannya sudah berada di belakang mobilku pas.
Saat aku masuk
dalam hotel itu, aku mulai lupa kalau aku sedang dikejar. Aku tak pernah melihat
hotel dengan pemandangan seindah ini. Orang – orang disini tidak seperti manusia,
mereka terlalu cantik.
“Hei… Aku mau
bicara sama kamu”
Disini aku baru
sadar, namun aku merasa disini aman maka aku membiarkan dia berbicara.
“Kau mau apa dari
aku? Kita sudah gaada hubungan apa-apa lagi”
“Iyaa aku paham
itu, aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku masih mencintaimu lisa”
“Aku gak bisa” aku
fokus memfoto bagian dari banguan hotel yang menurutku itu sangat megah
“Tidak apa-apa,
mobilmu bermasalah?”
“Tidak tau yaa…
tiba-tiba macet”
“Ohh… temanku sedang
mengeceknya. Sebentar lagi harusnya sudah bisa dibenerin. Dan yaa aku gak bermaksud
buat nakutin kamu. Jujur saja aku hanya ingin menyampaikan itu, karena
menurutku itu harus.”
“Iyaa terimakasih,
kau bisa pergi dari kehidupanku?”
“Tidak… Memang benar
aku sudah tidak lagi sama kamu, tapi setiap kamu butuh aku akan selalu ada”
Terlihat senyumnya
yang sangat tulus, dia meninggalkanku karena temannya sudah memanggilnya. “Mobilmu
sudah selesai, kau selalu cantik yaa… Aku pergi dulu”
Aku tidak percaya
bahwa dia kembali dalam hidupku di dunia yang sudah tidak aku pahami.
Dunia semakin
hancur disetiap harinya. Tidak ada yang tau ternyata semua keindahan yang ada
di dunia ini palsu.
“Lisaa bangun… udah
jam enam kau belum sholat astagfirullah” Suara ibuku yang membangunkanku
“Hah…”
“Hah., Hah..
Bangun gak!!”
“Iyaa iyaa ini
sudah duduk”
Aku melihat jam
masih jam 05.10 WIB
“Ibuuk… ini masih
jam lima”
Sepertinya aku tadi tidak sadar,
aku telah terlelap. “Padat banget jadwal mimpiku”
Komentar
Posting Komentar