Kehangat Keluarga Minggu II
Malam ini hujan begitu lebat, tak ada cela bagi siapapun untuk sekedar keluar menengok gemerciknya. Beberapa orang sudah terlanjur diluar, terpaksa berteduh di persimpangan jalan yang ber-atap.
Di seberang tempatku berteduh, terlihat wajah yang tidak
asing. Dengan motor bututnya yang sudah nyendat-nyendat diterpa derasnya
hujan.
“Motornya kenapa pak?” tanyaku ke bapak itu, dia
mencoba menyalakan motornya di depan tempatku berteduh. Sudah 20 kali engkolan
tidak nyala-nyala.
“Ini mungkin karena kena hujan mas, sudah biasa mas
motor lama rusak gini” jawab bapaknya dengan senyum.
“Bapak, bapaknya Cika yaa?”
“Loh mas-nya siapa? kok tau anak saya”
“Saya guru barunya Cika pak, saya yang gantiin Bu
Rusiana yang pensiun minggu kemarin”
“Ohh, guru matematika ya mas… Kemarin Cika
sempat cerita katanya Guru matematikanya yang sudah tua mau diganti. Ternyata
masnya yang ganti yaa?”
“Iyaa pak sementara ini memang saya, tapi masih masa
percobaan... Bapak masukin saja motornya sepertinya motornya masuk angin pak,
jadi perlu didiamkan sebentar.”
Pak Sutris bapaknya Cika memasukkan motornya dan
mencoba untuk mengengkol motor bututnya lagi setelah 30 menit. Hujan tampak
mulai reda, beberapa orang sudah mulai melanjutkan perjalanannya. Tinggal aku
dan Pak Sutris menunggu motor butut itu diberi keajaiban untuk mau nyala.
“Sebentar pak, coba saya cek businya”
Disini saya mencoba untuk membantu dengan pengetahuan
dangkalku sebagai montir amatir. “Masih normal… Coba engkol lagi pak.” Trengteng-teng-teng-teng,
Trengteng-teng-teng-teng…
“Alhamdulillah… Terimakasih mas…” Pak Sutris menjabat
tanganku, dan dia langsung pamit karena katanya sudah ditunggu anak istrinya.
Hari ini Pak Sutris lanjut narik gojek buat sampingan
setelah pulang dari kerja pabrik. Biasanya dia mulai dari jam empat sore sampai
jam delapan malam. Lumayan, kadang dapat 30 ribu sampai 70 ribu. Tapi karena
hujan dari habis maghrib tadi, jadi sepi hanya dapat dua penumpang.
Sekarang sudah jam 20.30 WIB, Pak Sutris langsung
balik setelah hujan reda dan motornya nyala, karena dia merasa sudah telat
pulang, takutnya istrinya khawatir. Dia juga punya janji harus beliin ayam
krispi dan martabak isi jamur untuk makan malam anak-anaknya. Ini dia lakukan
setiap satu bulan sekali, menuruti apa yang ingin dimakan anaknya.
Setelah itu, aku melanjutkan perjalanan untuk kembali
ke asrama tempat tinggalku. Aku tinggal dibagian selatan kota, di kota yang
tidak pernah aku harapkan, namun malah menjadi tempat aku merajut impian.
Trengteng-teng-teng-teng… Terdengar suara motor butut pak Sutris yang membuat
Ibu Cika langsung membuka pintu sampai-sampai pak Sutris kaget dengan sikap
istrinya.
“Kenapa buk?” tanya pak Sutris heran
“Ini pak, dari tadi mamak mondar mandir karena
khawatir bapak gak pulang-pulang. Bapak gak kasih kabar, terus ditelfonin juga
gak bisa.” Ucap cika dengan senyum-senyum karena melihat tangan pak Sutris
membawa sesuatu.
“Astragfirullah... Maaf buk, tadi HP bapak mati pas
mau ngabarin, kalau bapak kejebak hujan”
“Iyaa tidak apa-apa pak, yang penting bapak selamat.
Sudah sudah bapak mandi dulu” Ibu Cika dengan wajah malu-malu.
“Iya buk… ini ayam krispi sama martabak buat makan
malam”
“Yeeyy…” Putra dari kamar langsung lari keluar saat
dengar ada ayam krispi kesukaannya.
“Yeey, yeey, ini buat aku gak buat kamu” Ucap Cika,
mencoba untuk menggoda adiknya
“Apaan, bapak mah beliin aku. Wlee” Putra menjulurkan
lidahnya mengejek balik
“Sudah, ayo masuk buat kalian semua” Ibu menengahi
anak-anaknya yang suka saling ejek itu.
“Huuuh…” Putra masih gak terima nyorakin kakaknya.
Terlihat Cika tertawa karena sudah menggoda adiknya.
Di meja ini, di dapur ini, di rumah ini. Tempat
keluarga hangat ini menjalani suka duka. Khususnya di meja makan, biasanya
keluarga Cika bercerita, mengungkapkan rasa, melalui tawa dan tangis yang tak
terhindarkan.
Ibu Cika telah menyiapkan nasi dan sisa kuah masakan
siang tadi. Pak Sutris juga sudah selesai mandi. Cika dan Putra sudah duduk
manis ditempatnya masing-masing. Tinggal pak Sutris yang masih perlu pakai
baju.
“Tadi bapak ketemu sama guru barumu Cika. Aku lupa
nanyain namanya, siapa namanya?”
“Guru baru?... Oh iya, pak Ahsan. Guru matematika yang
gantiin Bu Rusiana.”
“Baik banget gurumu Cika, bapak tadi dibantu pas si
jarot macet gak mau nyala” Iya, nama motor butut milik pak Sutris itu jarot.
“Memang sangat baik pak, terus pak Ahsan juga enak
cara jelasinnya.
Ibu Cika mengambilkan nasi untuk anak dan Pak Sutris.
Putra sudah memegang ayam krispi di tangan kanannya dan tangan kirinya
martabak.
“Ayoo makan dulu, sebelum dihabiskan Putra” Ibu
tersenyum melihat anaknya yang terlihat sangat lahap
Cika dan pak Sutris ketawa melihat tingkah si Putra
yang sudah belepotan.
Malam ini begitu terasa indah, namun aku tidak tau
keindahan itu terlukis dari mana. Lalu terlintas di pikiran bahwa keindahan
tercipta oleh bahagia. Dan Bahagia ada kerena rasa terima.
Komentar
Posting Komentar