Jiwa yang Rapuh
“Mah… ini dimana, kenapa aku disini?” Tanya Andi kepada mamahnya
“Di rumah sakit nak. Kau gak ingat kejadian tadi? kau
hampir bacok orang lewat, emang apa yang kau rasain sekarang?”
“Cuma sedikit pusing… ehh tapi kenapa aku mau bacok
orang Mah? Kok aku gak inget apa-apa”
“Ibunya Andi?” Salah satu dokter menghampiri mereka
“Oh iyaa dok”
“Ibu ikut saya sebentar ya… mau tanya-tanya sebentar
terkait anak Ibu”
Disini Andi tampak kebingungan, dia tidak tau dia
dimana. Sebenarnya dia sekarang di rumah jiwa yang berada di tengah-tengah
hutan dengan tim keamanan super ketat. Di rumah jiwa ini terdiri dari dokter
jiwa, petugas jiwa, tim keamanan, dan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa.
Mas Purnomo salah satu petugas jiwa di rumah jiwa
mendekatinya, mencoba sok akrab untuk bertanya tentang apa yang sedang dialami
Andi.
“Namamu siapa broo?”
“Andi Mas”
“Umur?”
“16 Tahun”
“Loh kenapa kau kesini?”
“Gak tau mas, kata Mamah tadi aku mau bacok orang,
tapi aku gak inget.”
“Kau ngerasa denger suara-suara bisikan kah?”
“Loh Mas-nya kok tau? Beberapa tahun ini aku ngerasa
ada yang bisikin Mas, apalagi pas malam hari. Namun beberapa bulan ini kayak
bilang Mamahmu diperkosa orang, jadi aku ya gak terima lah mas mamaku
diperkosa”
“Terus apa tadi juga denger kayak gitu?”
“Iyaa sih, tapi aku gak tau kenapa aku bacok orang.
Aku gak inget sama sekali.”
“Yaudah sementara duduk disini aja nunggu dokternya
yaa”
“Tapi aku pengen pulang Mas!”
“Iyaa sebentar disini dulu yang tenang, setelah
dokternya kesini nanti kalo boleh langsung pulang, pasti pulang kok.”
Gak lama dari Mas Pur tinggal, tiba-tiba Andi lari ke
lorong gelap yang ada di rumah jiwa, lari-lari dari pojok ke pojok. Tiba-tiba
dia merubah arah dan lari ke arah pintu keluar.
“Pak… Pak… dia mau lari” salah satu petugas jiwa teriak
ke tim keamanan
Bapak-bapak kekar yang Bernama Pak Broto itu dengan
sigapnya langsung menangkap tangan Andi, namun Andi melawan. Dia meronta-ronta
mencoba untuk lepas.
Tangannya Andi terlepas, Pak Broto langsung memeluk
badannya.
Plakk… Kepala Pak Broto kena sikut Andi yang masih
merontah-rontah ingin pulang. Beberapa tim keamanan mulai membantu untuk memegang
Andi agar tidak merontah.
“Nurut nak, biar cepat pulang” Ibunya dengan lembut
mengelus kepala Andi
Seketika itu Andi sedikit tenang. Tim keamanan
menyeretnya kembali ke tempat tidurnya.
“ANJING!!! Koe seng merkosa Mamahku?”
Pak Broto kaget dengan teriakan Andi yang mengarah ke
dirinya, Pak Kosem salah satu tim keamanan langsung membungkam mulutnya dengan
selimut. Andi kembali merontah melawan.
“Mah… mana goloknya tadi, orang ini kan yang
memperkosa Mamah?” dengan suara patah-patah.
Salah satu petugas jiwa mengambil tali untuk mengikat
Andi sementara.
“Ibu izin ya… Anaknya sementara kami ikat agar tenang
dulu” Pak Danu selaku petugas jiwa
Terlihat jelas ibu Andi hanya diam dan meneteskan air
mata.
Tidak ada yang tau masalah apa yang pernah dialami
Andi, hingga menjadi seperti sekarang. Tetapi melihat tatapan Ibu Andi seperti
tersimpan banyak hal yang tidak bisa dia ungkapkan.
“Akhhh… Akhh… Anjing!!! Kenapa kau ikat aku. Mah…
Tolongin aku.”
“Iyaa nak, kamu tenang dulu yaa…” Ibu Andi tak
kuasa lagi menahan tangisnya. “Yang tenang ya nak, tenang dulu nak. Jangan bikin
Mamah khawatir.”
“Mah lepasin ikatanku, aku mau bacok orang yang udah
perkosa Mamah”
“Sudah Andi, tidak ada yang pernah perkosa Mamah.”
“Lepasin aku Mah!!”
“Kau tenang dulu Andi, nanti bakal Mamah bantu
lepasin. Tapi Andi tenang dulu yaa…” dengan isakan yang begitu sakit.
Andi adalah anak tunggal dari Bu Sri, dia ditinggal
Ayahnya sejak umur 11 tahun. Sejak sepeninggal Ayahnya, Bu Sri mengalami
depresi berat hingga Andi sempat mengalami perilaku kekerasan darinya.
Terkadang Andi tidak diberi makan dan disuruh minta ke tetangga.
Beberapa tetangga prihatin dengan apa yang dialami
Andi, jadi tidak sedikit yang ibah dan memberinya makanan bahkan mengajaknya
untuk tinggal dirumah mereka. Namun Andi selalu menolak, dia lebih memilih untuk
tidur disamping Bu Sri.
Pada saat usia Andi memasuki 13 tahun, Bu Sri sudah
mulai bisa menerima kepergian Ayah Andi. Dia mulai sadar bahwa yang
dilakukannya salah. Selama 2 tahun ini sudah mentelantarkan anaknya sendiri.
Namun kejadian itu menjadi sesuatu yang sangat buruk
bagi Andi. Dia tak sadar bahwa batinnya sebenarnya sudah tidak mampu menahan.
Beberapa kali perilakunya aneh, seperti ketawa-ketawa sendiri, ngobrol sendiri
dan terkadang bilang ke Bu Sri punya teman banyak, tetapi teman-temannya orang-orangan yang tidak memiliki wajah.
Waktu itu Bu Sri belum sadar bahwa anaknya mengalami
gangguan jiwa, jadi dia membiarkannya hingga hari ini di usianya yang sudah
menginjak 16 tahun.
"Mah... Lepasin aku" Dengan suara setengah sadar efek obat yang disuntikkan dokter.
Bu Sri menangis tak tertahankan lagi. "Ini salahku Pak... ini salahku... Andi seperti ini, ini salahku..."
"Sudah bu... Ibu keluar dulu, Ibu juga tenangkan diri. Andi beberapa hari ini akan tinggal disini" Mas Pur mencoba membujuk Ibu Andi agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Pengobatan Andi berjalan selama dua minggu, Bu Sri tiap tiga hari sekali mengunjunginya. Tidak terlalu banyak kemajuan apa yang dialami Andi. Namun Andi terlihat lebih tenang, meski masih dihantui oleh suara-suara dan orang-orangan yang tidak berwajah.
"Bu Sri... akar kasih sayang haruslah memeluk, bukan merobek jiwa
yang rapuh. Maka jika tidak bisa menjadi pelabuhan sebagai tempat bersandar,
setidaknya tidak menjadi badai yang terus menghujam dan menghancurkan."
Kata salah satu tetua di Rumah Jiwa
Komentar
Posting Komentar